






"Papa/Mama dengar kemarahanmu. Kamu boleh marah, namun kamu tidak boleh tidak sopan."(Jeda 3 detik)"Papa/Mama cukup kuat untuk menerima kemarahanmu. Papa/Mama tidak akan pergi ke mana-mana. Saat kamu siap bicara dengan nada biasa, Papa/Mama ada di ruang kerja."
"Kamu mau mengerjakannya sekarang atau 10 menit lagi? Papa/Mama serahkan pilihannya padamu. Namun harus selesai sebelum pukul 19.00."
"Kamu boleh memilih untuk tidak membereskan kamarmu. Namun itu berarti kamu juga memilih untuk tidak menggunakan Wi-Fi malam ini. Pilihan ada di tanganmu, Nak."
"Papa dan Mama bekerja keras dan menghasilkan uang yang cukup untuk hidup nyaman. Itu adalah uang Papa dan Mama.""Kamu punya akses ke kenyamanan ini, namun kamu belum memilikinya. Tugasmu sekarang adalah belajar supaya nanti kamu bisa membangun kekayaanmu sendiri."
"Barang itu bagus, Papa/Mama setuju. Namun di keluarga kita, kami tidak membeli barang "liabilities" semahal itu kecuali kamu ikut berkontribusi.""Kalau kamu serius, buatlah proposalnya. Berapa yang bisa kamu tabung, dan berapa yang kamu minta Papa/Mama tambahkan. Kita bahas bisnisnya nanti malam."
"Papa/Mama sangat kecewa melihat ini. Emosi Papa/Mama sedang tinggi sekarang, dan Papa/Mama tidak ingin bicara kasar padamu.""Masuk ke kamarmu. Kita bicara satu jam lagi saat kepala kita sama-sama dingin. Serahkan HP-mu sekarang."
"Papa/Mama tahu kejadian sebenarnya. Papa/Mama kasih kesempatan kedua: Coba ceritakan ulang apa yang terjadi dengan jujur. Kita bisa perbaiki kesalahan, namun kita tidak bisa perbaiki kebohongan.""Kalau kamu jujur sekarang, hukumanmu akan jauh lebih ringan daripada kalau kamu terus berbohong."
"Kelihatannya kamu sedang merasa sangat berat hari ini. Sini, duduklah bersama Papa/Mama."(Dengarkan dulu)"Nilai/Kegagalan ini adalah kejadian, bukan identitasmu. Kamu mengalami kegagalan, namun kamu BUKAN orang gagal. Apa satu hal kecil yang bisa kita perbaiki untuk besok?"
